Senin, 29 November 2010

Tafsir Al Maun

Tafsir Al Maun
Tahukah engkau," – hai Utusan Kami – "Siapakah orang yang mendustakan agama?" (ayat 1). Sebagai   juga  terdapat  dalam ayat-ayat  yang  lain,  bilamana Tuhan memulainya dengan pertanyaan, adalah berarti  menyuruh kepada RasulNya agar   ini  diperhatikan dengan  sungguh-sungguh.  Karena kalau hal ini tidak dijelaskan berupa pertanyaan seperti ini, akan disangka orang bahwa mendustakan agama ialah semata-mata karena menyatakan tidak mau percaya kepada Agama Islam. Dan kalau orang sudah   sembahyang,   sudah   puasa,   dia   tidak   lagi   mendustakan   agama.   Maka   dengan   ayat   ini dijelaskanlah bahwa mendustakan agama yang hebat sekali ialah; "Itulah orang yang menolakkan anak
yatim."  (ayat  2).  Di  dalam ayat   tertulis  yadu'-'u  (dengan  tasydid),  artinya yang asal   ialah menolak. Yaitu menolakkannya dengan tangan bila dia mendekat.
Dalam pernakaian bahasa Minangkabau menolakkan dengan  tangan itu dikatakan  manulakkan.  Lain artinya daripada semata-mata menolak atau dalam  langgam daerah  manulak.  Sebab kalau kita  tidak suka kepada sesuatu yang ditawarkan orang kepada kita,  bisa saja kita  tolak baik secara halus atau secara   kasar.   Tetapi   menolakkan,   atau   manulakkan   berarti   benar-benar   badan   orang   itu   yang ditolakkan. Ada orang yang ditolakkan masuk lobang sehingga jatuh ke dalam. Pemakaian kata  Yadu'-'u yang kita artikan dengan menolakkan itu adalah membayangkan kebencian yang sangat.  Rasa  tidak senang  rasa  jijik dan  tidak boleh mendekat.  Kalau dia mencoba mendekat ditolakkan,  biar  dia  jatuh  tersungkur.  Nampaklah maksud ayat  bahwa orang yang membenci  anak yatirn   adalah   orang   yang  mendustakan   agama.  Walaupun   dia   beribadat.  Karena   rasa   benci,   rasa sombong dan bakhil tidak boleh ada di dalam jiwa seorang yang mengaku beragama. "Dan   tidak mengajak  atas  memberi  makan  orang miskin."   (ayat   3).  Dalam  bahasa  Melayu  yang terpakai  di  Malaysia disebut  "menggalakkan".  Dia  tidak mau menggalakkan orang supaya member makan orang miskin.  Dilahapnya  sendiri   saja,  dengan  tidak memikirkan orang miskin.  Atau  tidak dididiknya anak  isterinya supaya menyediakan makanan bagi  orang miskin  itu  jika mereka dating meminta bantuan makanan.
Orang seperti ini  pun termasuk yang mendustakan agama.  Karena dia mengaku menyembah Tuhan, padahal hamba Tuhan tidak diberinya pertolongan dan tidak diperdulikannya. Dengan ayat ini jelaslah bahwa kita sesama Muslim, terutama yang sekeluarga dan yang sejiran, ajak mengajak,  galak menggalakkan supaya menolong anak yatim dan fakir miskin itu menjadi perasaan bersama, menjadi budi pekerti yang umum.
Az-Zamakhsyari menulis dalam tafsimya, tentang apa sebab orang-orang yang menolakkan anak yatim dan tidak mengajak memberi makan fakir miskin dikatakan mendustakan agama. Kata beliau:  "Orang  ini  nyata mendustakan agama.  Karena dalam  sikap dan  laku perangainya dia mempertunjukkan bahwa dia tidak percaya inti agama yang sejati, yaitu bahwa orang yang menolong sesamanya yang lemah akan diberi pahala dan ganjaran mulia oleh Allah. Sebab itu dia tidak mau ber­buat ma'ruf dan sampai hati menyakiti orang yang lemah.
Kalau dia percaya akan adanya pahala dari Tuhan dan yakin akan balasan Ilahi, tentu dia takut akan Tuhan dan takut akan siksaan dan azab Tuhan, dan tidaklah dia akan berani berbuat begitu kepada anak yatim dan si miskin. Kalau telah ditolakkannya anak yatim dan didiamkannya saja orang miskin minta makan, jelaslah bahwa agama itu didustakannya. Sebab itu maka kata-kata Tuhan di ayat ini sangatlah tajamnya dan orang itu telah didudukkan Tuhan pada satu tempat yang dimurkaiNya. Ini adalah satu peringatan yang keras  untuk menjauhi  perbuatan yang dipandang Tuhan  sudah mendurhaka.  Maka layaklah diambil kesimpulan bahwa orang berperangai begini lemah imannya dan keyakinannya amat kendor."Maka kecelakaan akan didapati oleh orang-orang yang sembahyang." (ayat 4). "Yang mereka itu dari shalatnya, adalah lalai." (ayat 5) Dia telah melakukan sembahyang, tetapi sembahyang itu hanya membawa celakanya saja; karena tidak dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Tidak timbul dari kesadarannya, bahwa sebagai seorang Hamba Allah, sudah sewajamya dia memperhambakan diri kepada Allah dan mengerjakan sembahyang sebagaimana yang diperintahkan Allah dengan perantaraan NabiNya. Saahuun;  asal  arti  katanya  ialah  lupa.  Artinya dilupakannya apa maksud sembahyang  itu,  sehingga meskipun  dia  mengerjakan   sembahyang,   namun   sembahyangnya   itu   tidaklah   dari   kesadaran   akan maksud dan hikmatnya.
Pernah  Nabi   kita   s.a.w.  melihat   seorang   sahabatnya   yang   terlambat   datang   ke  mesjid   sehingga ketinggalan   dari   sembahyang   berjamaah,   lalu   dia   pun   sembahyang   sendiri.   Setelah   dia   selesai sembahyang, Nabi s.a.w. menyuruhnya mengulang sembahyangnya kembali. Karena yang tadi itu dia belum sembahyang. Dia belum mengerjakannya dengan sesungguhnya. "Orang-orang yang riya'." (ayat 6). Ini juga termasuk sifat-sifat orang yang demikian. Walaupun dia beramal,  kadang-kadang dia bermuka manis kepada anak yatim.  Kadang-kadang dia menganjurkan memberi makan fakir miskin, kadang-kadang kelihatan dia khusyu' sembahyang; tetapi semuanya itu dikerjakannya karena riya'. Yaitu karena ingin dilihat, dijadikan reklame. Karena ingin dipuji orang. Lantaran riya'nya itu, kalau kurang pujian orang dia pun mengundurkan diri atau merajuk. Hidupnya penuh dengan kebohongan dan kepalsuan; "Dan menghalangi   akan memberikan   sebarang   pertolongan.   "   (ayat   7).  Artinya;   Jalan   untuk menolong orang yang susah, adalah amat banyak. Sejak dari yang berkecil-kecil sampai kepada yang besar,   pokoknya   asal   ada   perasaan   yang   halus,   kasih-sayang   kepada   sesama  manusia,   di   dalam pertumbuhan Iman kepada Tuhan. Tetapi orang-orang yang mendustakan agama selalu mengelakkan dari menolong. Selalu menahan, bahkan menghalang-halangi orang lain yang ada maksud menolong orang.  Rasa cinta tidak ada dalam jiwa orang ini.  Yang ada hanyalah benci! Hatinya terlalu terpaut kepada benda yang fana. Insaf dan adil tak ada dalam hatinya. Keutamaan tak ada bedanya, mukanya berkerut terus-terusan karena hatinya yang tertutup melihat orang lain. Dia menyangka begitulah hidup yang baik. Padahal itulah yang akan membawanya celaka.
Surat yang pendek ini, 7 ayat, diturunkan di Madinah, untuk menghardik orang-orang munafik yang ada  pada  masa   itu,  yang  sorak-sorainya  keras,  padahal   sakunya  dijahitnya.  Tetapi  Surat   ini   telah menjadi cemeti terus-menerus bagi Ummat Muhammad. Sebab kian lama kian nampaklah orang yang seperti   ini  perangainya dalam pergaulan masyarakat   Islam.  Mereka mengakui   Islam,   tetapi  dengan tidak disadari mereka telah menjadi orang munafik. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Jarir dalam tafsimya:
"Begitulah orang-orang munafik,  kalau di  hadapan banyak orang banyak sembahyanglah dia serupa sangat khusyu', tetapi kalau orang tak ada lagi, sembahyang itu pun tidak dikerjakannya lagi. Tidak ada ingatan dalam hatinya buat menyambungkan budi dengan orang lain, yaitu memberikan pertolongan apa yang perlu bagi yang memerlukannya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar