Selasa, 30 November 2010

Life style


Menilik dari kemajuan teknologi serta arus budaya yang bebas di konsumsi oleh publik, dan meningkatnya kebutuhan konsumsi pada masyarakat. Dalam hal ini media berperan besar atas peningkatan pola hidup. sebagai contoh kita lihat gambaran dibawah ini :
Di sela-sela kesibukan dan kepadatan lalu-lintas kota-kota besar, nampak pria kantoran berpenampilan nechis dengan tas jinjing serta dasi hitam melekat di kerah bajunya, bergegas memasuki restoran cepat saji, dengan cepat memesan makanan pada menu yang telah disediakan, tak selang beberapa menit kemudian dia keluar menjinjing makanan sembari bergegas berjalan memakan makanannya. Peristiwa seperti itu mungkin akan sangat jarang kita temui pada masyarakat urban di Indonesia yang akan melakukan sama, rata-rata sebagian besar dari mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka ternyata lebih senang duduk berlama-lama didalamnya, sambil mengobrol dan ketawa-ketiwi. Sedangkan kalau dilihat dari kegunanaan restoran cepat saji merupakan pemenuhan atas kebutuhan bagi masyarakat yang memang tidak mempunyai waktu berlama-lama ( sibuk ) agar waktu mereka tidak terbuang percuma hanya untuk sekedar menunggu makanan dan duduk-duduk didalamnya.
Lebih hebatnya lagi kalau anda perhatikan tampilan restoran cepat saji, disekelilingnya menggunakan kaca transparan guna menyekat. Dalam benak saya ketika melihat hal tersebut tidak lain seperti akuarium besar yang didalamnya di isi bukan oleh ikan hias melainkan manusia. Cukup menarik juga untuk tontonan.
Media, dalam hal ini merupakan sebuah alat hebat guna mengkampanyekan iklan produk. Indonesia Negara berkembang dan kebutuhan konsumsi akan hidup semakin besar pada masyarakat urban, media melihat hal itu merupakan sebuah ladang emas, sembari membawa kepentingan individu pun kelompok guna kepentingan tujuannya. Pendekatan sosiologis pada media massa menekankan pada hubungan sosial, terutama dalam kaitannya dengan ketegangan antar struktur dengan agen-agen sosial. Para ahli sosiologi yakin bahwa individu pada beberapa variasi merupakan suatu produk sosial.
Sekarang, masyarakat urban di kota-kota besar Indonesia memiliki penilaian tersendiri antara nilai modern dan tidak. Barometernya adalah luar negeri. Karena yang di maksud disini luar negeri adalah gedung-gedung tinggi pencakar langit, teknologi modern, gaya hidup hedon dan lainnya. Dan masyarakat Indonesia ( masyarakat urban ) menilainya berbanding terbalik, makna dan nilai gunanya pun demikian
Ketika mereka mengkonsumsi yang menjadi gaya hidup menjadi sebuah nilai prestise berharga bagi masyarakat urban. Berbicara masyarakat urban seolah terjadi peng-kelas-an atau strata sosial, karena terdapat anggapan bahwa apabila seseorang menggunakan stelan prada, membaca majalah life style serta memanjakan diri di tempat pusat kecantikan “elit” Centre de Beaute dan berlibur di Negara seperti Amerika, Inggris, Paris yang notabenenya dianggap sebagai Negara yang beradab serta modern menjadi tujuan utama manusia Indonesia.
ANALISIS
Kami akan menggunakan teori stratifikasi social atau pelapisan social untuk menganalisa fenomena social tersebut. Gaya hidup yang ditampilkan antara kelas social satu dengan kelas social lain dalam banyak hal tidak sama. Ada kencenderungan masing-masing kelas mencoba mengembangan gaya hidup yang yang ekslusif untuk membedakan dirinya dengan kelas yang lain. Berbeda dengan kelas social rendah mereka memiliki sifat yang konservatif, di bidang agama dan moralitas, cara pakaian yang ndesit, cara perawatan kesehatan dan cara mendidik anak dan hal-hal lain. Kalau kelas social menengah ke atas lebih bersifat lebih atraktif dan eklusif. Mulai dari tutur kata, cara berpakaian, pilihan hiburan, pemanfaatan waktu luang, pola berlibur dan lain sebagainya. Antara kelas satu dengan kelas yang lain.
Sebuah keluarga yang berasal dari kelas rendah akan memilih liburan di kampung halaman saja pada waktu liburan, atau Cuma menontot televisi saja. Berbeda dengan kelas social atas mereka akan berlibur ke luar negri setiap bulan atau setiap satu semester satu kali pada liburan anak-anak mereka, mereka akan pergi ke singapura, hongkang, Thailand bahkan sampai ke Negara eropa.
Gaya hidup yang tidak sama antara masyarakat kelas atas dan bawah ini kelihatan pada cara berpakaian dan pemanfaatan waktu luang. Kalau kelas bawah dia lebih senang untuk menghabiskan waktu dengan cangkruan dan lain sebagainya sedangkan kelas atas lebih memanfaatkan waktu dengan baik.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar